Postedon 26/01/2021. DAFTAR FINAL PESERTA LOMBA CERPEN ROMANTIS 2021. TEMA: “MERAYAKAN CINTA”. Daftar peserta yang sudah memenuhi syarat dan ketentuan lomba sebagai berikut: 1) 1.860 hari, Vriis Ayuwisia KMCO 55. 2) 10 Tahun Demi Kita, Ester O. Warikar KMCO 29. 3) 1000 Detik Pelukan Dan Setangkai Anggrek Putih, Ratu Agung Ayu
MantanTerindah selalu membawa suasana berbeda bagi Zahara. Kumpulan cerpen itu selalu membawa haru dan tak bosan meski dibaca berulang kali. Mungkin karena Zahara mencurahkan segala rasa dalam buku tersebut dan mungkin juga buku ini menjadi pembuktian pada keluarganya bahwa ia mampu menjadi penulis.
Semakiningin melupakan malah semakin merindukannya. Hal ini wajar terjadi karena memang masih sangat mencintai. Semua kebiasaan dan kenangan indah masih melekat di ingatan, sampai-sampai hembusan napasnya (dari mantan terindah) saat pernah berada didekatnya pun seakan-akan masih terasa.
Apalagi jika dia yang akhirnya pergi dari sisimu adalah yang menurutmu paling sempurna. Posting lebih baru posting lama beranda. Demi Menghapus Kenangan Bersama
Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd Nợ Xấu. Setiap orang tentu memiliki setidaknya sebuah kenangan yang begitu dalam tersimpan dalam ingatan, baik itu kenangan indah dengan sahabat, kenangan sedih bersama keluarga, atau kenangan romantis dengan orang tercinta. Sebuah kenangan akan terasa maknanya bila kita sudah tak bersama lagi dengan orang yang ada di dalam kenangan karena itu, salah satu kenangan yang paling berkesan yang banyak dirasakan orang-orang adalah kenangan saat perpisahan. Nah, kumpulan pantun yang kami sajikan di artikel ini merupakan pantun yang bisa mengekspresikan perasaan Anda tatkala tengah rindu dengan kenangan indah masa Pantun Kenangan1. Pergi ke kota lewat tikungan Bunga rampai ditekan-tekan Kisah kita jadi kenangan Jangan sampai Lihat kolam tak ada ikan Datang petani gali genangan Selamat jalan aku ucapkan Semoga ini jadi Pantang menyerah raih kemenangan Hewan berbulu pergi ke selatan Memori indah jadi kenangan Simpan selalu dalam Burung terbang jenisnya pelikan Terbang rendah di atas bendungan Momen perpisahan memang menyedihkan Simpan saja sebagai Bawa sajadah ke Pulau Bintan Tempatnya ramai buat balapan Kenangan indah muncul di ingatan Terasa damai membawa Pohon kurma tumbuhnya rendah Berwarna coklat, terbelah-belah Kenangan lama yang paling indah Adalah saat masa Daun salam dibuat santan Santan disimpan dalam sepekan Malam malam teringat mantan Kenangan indah tak Ikan hiu dibawa boncengan I miss you, tapi hanya Bawa kereta menuju panti Henti sejenak di jalan merpati Cerita kita telah berganti Namun kenangan tetap di Ke Pondok Indah naik angkutan Badan jatuh, patahlah tulang Kenangan indah bersama mantan Semoga takkan pernah Kakak Arjuna bernama Bima Paling cepat badannya berkeringat Kita berpisah sudah lama Kenangan itu tak usah Bikin santan malam-malam Santan dimasak buat yang ngidam Kenangan mantan begitu kelam Harus lupakan biar tak Duduk berdua bersebelahan Jalan-jalan di atas jembatan Hancur cinta karena selingkuhan Lupakan kenangan bersama Ke Bosnia mencari kerang Malah berjumpa dengan beruang Agar dunia kembali riang Kenangan mantan harus Maling beraksi membuat resah Lompati pagar bercadar merah Hari ini kita berpisah Untuk raih masa depan Jalan-jalan ke Pasar Minggu Membeli gamis yang indah Ini tempat pertama bertemu Juga tempat kita Rumah persegi di perempatan Anak jelita membawa ikan Jumpa lagi di lain kesempatan Kenangan kita jangan Bunga selasih, bunga melati Kakak Yanti menggosok gigi Rasa sedih di dalam hati Semoga nanti jumpa Berhembus laju angin mengalir Tiupnya kencang ke pohon zaitun Sambutlah pesan salam terakhir Aku sampaikan melalui Sungguh manis buah rambutan Enak dimakan perlahan lahan Bila ada sebuah pertemuan Pasti datang sebuah Hujan turun di kota Palu Hilangkan semua keluh kesah Tahun tahun telah berlalu Kini saatnya kita Gadis cantik membawa belati Belati dibawa bersama peti Jangan suka bersedih hati Walau perpisahan sedang Sebelum titik tulislah koma Untung banyak namanya faedah Suka duka dilewati bersama Jadi kenangan teramat Bawa gergaji untuk diasah Gergaji kecil memotong pelepah Hari ini kita berpisah Moga rejeki selalu Dalam sejarah ada prasasti Prasasti tugu di zaman dinasti Kadang lisan ini menyakiti Maaf darimu yang aku Segelas madu dicampur kelapa Badan pun hangat sedap terasa Kesetiaanmu tak kan kulupa Kan teringat sepanjang Simpan ragi di bawah kain Jumpa lagi di masa yang Malam-malam ronda berjaga Dapat sepatu jangan dibawa Meskipun kita berpisah raga Tetap bersatu di dalam Ada zebra ekornya goyang Kulit kuda warnanya sama Jangan menangis duhai sayang Kita berpisah tidaklah Tak jua datang membuat gelisah Ketika kembali jadi tambah seru Secara raga memang kita berpisah Namun di hati tetap ada Bapak-bapak sedang bertamu Berbaju batik membawa duku Betapa banyak jasa-jasamu Selalu baik pada Bila ingin aku betah Sediakan saja buah delima Kini kita akan berpisah Kenangan indah saat Dari kota datang ke daerah Ibu petani bawa merpati Walau kita akan berpisah Aku di sini setia Kakak saya orangnya seni Adik saya selalu meniru Kebersamaan yang singkat ini Membuat sedih dan Putih-putih si bunga melati Melati disimpan di dalam lemari Janganlah dikau bersedih hati Meski perpisahan Jangan pergi terlalu lama Supaya khawatir selesai sudah Suka duka dilewati bersama Jadi kenangan yang amat Minum kopi hanya secangkir Nikmat diminum dengan suami Perpisahan bukanlah akhir Masih dapat Ke pasar membeli ketan Liburan ke kota Surabaya Perpisahan bukan hambatan Untuk mengejar Nafas sesak susah mendesah Lihat bangau di atas kerbau Sungguh berat rasanya berpisah Hatiku galau pikiran Ada gadis menangis pilu Ternyata hatinya sedang gelisah Sungguh cepat waktu berlalu Tak terasa akan Sungguh telaten Ibu Aisyah Menyiram bunga kembang sepatu Walau raga kita berpisah Hati kita tetap Anak muda cari kerjaan Agar tidak hidup susah Akan kurindu semua kenangan Suasana indah yang penuh Memang susah bermain gitar Apalagi di saat gerogi Kita berpisah hanya sebentar Pasti kelak bertemu Jalan-jalan ke kota Blitar Mencari bunga ke dataran rendah Perpisahan tinggal sebentar Jadikan ini kenangan Pergi bermain ke pulau Bangka Membaca buku sejarah kota Perpisahan ini sangat tak kusangka Aku terharu teteskan air Hujan-hujan bajunya basah Ada kilat menyambar kelapa Hari ini kita berpisah Moga cepat kembali Jalan-jalan di kota Padang Pergi bersama ke Berastagi Doakan saya berumur panjang Agar kita dapat bertemu Ke Brastagi beli sepatu Jualan pangan berupa tebu Jumpa lagi di lain waktu Simpan kenangan di dalam Ketumpahan bakso bajuku basah Ingin marah namun pada siapa Walau hati tak ingin berpisah Apalah daya sudah Tanjung Sauh di pulau Bintan Area berlabuh orang penyengat Berpisah jauh bercerai badan Ikatan sahabat tetap baca juga kumpulan pantun terbaik berikut iniPantun Cinta SejatiPantun Berbakti kepada Orang TuaKumpulan Pantun AsmaraPantun Pembuka PidatoKumpulan Pantun 2 BaitPantun Nembak Calon PacarKumpulan Pantun SedihPantun Warna BajuPantun Acara WebinarPantun Good Morning
Cerpen Karangan Deftendy virgiatmanKategori Cerpen Cinta Sedih Lolos moderasi pada 8 August 2020 Senja telah sirna, langit mulai menghitam. Aku berdiri tanpa alasan menghampiri seseorang yang terdiam di tepi jalan. “Cepet, langit udah gelap nih! Mau apa nggak?” Kataku kepadanya sembari menghampirinya Ya. Dia adalah mantanku, sebut saja Lily. Dia sekelas denganku dan telah berpacaran selama lebih dari satu tahun. Saat ini, ia sedang membutuhkan bantuan untuk pulang ke rumah. Kami sudah bermain di salah satu rumah teman kami. Kebetulan aku membawa kendaraan, aku memberanikan diri menawarinya. Ia tanpa basa-basi langsung menaiki motorku. Hatiku tidak karuan saat itu. Berdekatan dengannya membuatku lebih canggung. “Rumah kamu jauh nggak? Aku belum tahu rumah kamu, kamu tunjukin aja” tanyaku kepadanya “Jauh. Aku kan udah bilang, aku pulang sama temen aja” balasnya dengan tenang “Udah gak kenapa-napa ini, kok. Tenang aja” jawabku Aku siap mengantarkannya dan tiba-tiba saja baru saja sekitar 1 kilometer awan mulai menangis, terpaksa kami meneduh terlebih dahulu di salah satu toko. Tempat itu dan hujan menjadi saksi pertemuan aku dengannya kembali. Kita lenyap dalam pikiran masing-masing. Aku tidak mengatakan apapun kepadanya. Tubuhnya merasa kedinginan, kutawari ia sebuah jaket namun ia menolaknya. Aku tidak mungkin memakaikannya secara spontan karena mengingat bahwa saat ini, diriku bukanlah siapa-siapa bagi dirinya. Kulanjutkan perjalanan dan ternyata masih jauh untuk sampai ke rumahnya. “Kamu yakin gak bakalan pakai? Ini dingin banget lho” kataku sembari berteriak “Nggak apa-apa, kan kehalang sama kamu” jawabnya Suasana semakin sunyi, beberapa kali kutawari jaket tetapi jawabannya tetap tidak apa-apa. Ya sudah kuikuti saja dan biarkan jika dia menganggap diriku tidak peka karena aku mencintai seseorang dengan caraku sendiri. Tubuhku semakin kedinginan. Aku yakin dia pun merasakan hal yang sama. Hujan deras ini membuat diriku merasa mengantuk. Demi membuat sebuah kenangan, kita harus merelakan perasaan kita yang terdalam. Tiba-tiba saja, sebuah mobil maju dengan kecepatan yang tidak konstan di belakangku. Aku yang saat itu melamun kehilangan kendali dan terjatuh ke pinggir jalan. Badanku sakit tapi biarkanlah. Yang terpenting saat ini adalah kondisi mantanku karena ia tak memakai alat pelindung kepala. Sesuai dugaanku, mobil yang barusan melewatiku membuat Lily pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Kusaksikan dirinya dengan penuh rasa bersalah. Air mataku mulai jatuh menuju pipiku. Dunia terasa hancur. Saat ini, aku menganggap bahwa diriku adalah manusia paling bodoh sedunia. Membiarkan mantanku mati dalam sekejap membuat hatiku hancur berkeping-keping. Orang-orang mulai berdatangan dan kupanggil orangtuanya untuk melihat putrinya yang sudah tiada. Aku pulang dan kejadian beberapa jam yang lalu terus teringat di kepalaku. Aku harus menerima semua itu dan aku tidak boleh terlarut dalam kesedihanku saat ini. Cerpen Karangan Deftendy virgiatman Blog Deftendy Virgiatman, akrab dipanggil deftman. Lahir di bekasi tanggal 17 januari 2003. Menyukai fisika dan hobbi menonton film Cerpen Kenangan Bersama Mantan merupakan cerita pendek karangan Deftendy virgiatman, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " This Love Oleh Fadhila Indah Namaku Amanda Manopo. aku sudah terbiasa hidup tanpa cinta karena dia yang membuatku tak bisa lupa atas peristiwa itu. aku saat ini sedang membersihkan kamarku yang sudah berantakan dan Cinta Di Balik Kanker Part 1 Oleh Ni Putu Vania Nirwasita Giselle sedang berbaring di atas tempat tidur di RS Elisabeth. Sudah bertahun-tahun rasanya ia tidak bangun dari tempat tidur itu. Kepalanya sudah ditumbuhi sedikit rambut kecil, tapi masih saja 30 Last Days Oleh Vanda Deosar “Kamu divonis mengidap penyakit Kanker Otak stadium akhir, waktumu tersisa 30 hari lagi dan maafkan kami. Selesaikan urusanmu yang ada disini”. Kata-kata itu menghantam jantungku, bagaimana mungkin aku bisa Sang Hujan Menanti Pelangi Oleh Rivani Azizah Hendarmin Dalam sepotong sore di bawah gelitikan hujan yang menyerbu, tawa tercipta di tengah gemuruh nada hujan yang sendu. Menunggu henti hujan, menghentikan dingin yang menyerbu dengan senyum hangatmu yang Cinta Sejati Oleh Octaviana Indah Fitriani Aku melangkah dengan tubuh sempoyongan. Kepala ku sama sekali tak berani untuk mendongak. Mataku hanya menatap permukaan jalan dengan menyusuri setiap langkahan kaki ku. Benar-benar hari ini hari yang “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Jika kau bertanya, adakah yang lebih purba dari kenangan? Maka akan kujawab dengan ceritaku ini. Semenjak perkelahian itu, aku dan ia tiada pernah saling menyapa. Hatiku serupa batu yang paling purba dan tak dapat dikerat dengan alat apa pun. Apalagi dihancurkan. Aku membencinya setengah mati. Bagaikan tiada lagi ungkapan tentang kebencian yang dapat mewakili. Jika bukan lantaran berebut remote televisi, kebencian itu tidak akan sebesar gunung batu yang maha barangkali. Sebuah kebencian yang hanya menjadi kenangan hingga kini. Sebuah kata yang kelak kuanggap lebih purba dari kehidupan itu sendiri. Ia adalah kakak lelakiku yang menyulut kebencian itu. Umurku enam belas waktu itu, sedang kakakku lebih tua enam tahun dari usiaku. Dan menonton televisi adalah kebiasaan yang kulakukan saban sore sembari menunggu magrib di ruang tamu. Entah lantaran apa, aku tak tahu. Tiba-tiba ia merebut remote televisi yang sedang kupegang dan menghantamkannya tepat mengenai jidatku. Aku terkejut dan sebentar kaku. Darah pun mengucur perlahan merembes ke ujung hidungku. Segar dan amis menyatu. Aku bereaksi segera, meski nyaliku sempat menciut ketika melihat matanya yang nyalang. Kuarahkan tinju kuat-kuat ke arahnya, namun ia semakin jalang. Kuarahkan tinju kedua, ia semakin garang. Ia menendang. Tak sanggup diriku lari tunggang-langgang. Semakin aku berontak, semakin kuat tendangannya menghadang. Aku lekang dan remote itu pun terberai tak kepalang. Barangkali juga bukan salahnya ketika menghajarku hingga babak-belur. Dari cerita ibu, sebelum pulang, kakak lelakiku memang sudah mabuk sehingga pandangannya kabur. Bau alkohol tercium dari mulutnya dan kedua tangannya bergetar seperti tersengat listrik. ”Mungkin teman-temannya usai mencekokinya dengan air iblis atau sejenis cukrik.” Aku mendengar ibu sesenggukan, menahan memar di kepalanya yang diciptakan kakak lelakiku itu, lantas mengompresnya dengan batu es. Ibu juga membersihkan wajahku yang penuh darah dan hampir kering. Tangannya menyeka luka bekas lemparan remote televisi dengan kapas yang telah dilumuri Revanol lantas menutup luka itu dengan kasa yang sebelumnya telah diolesi obat merah. Aku sesenggukan menahan sakit yang merajam. Kakakku tenang usai para tetangga berdatangan, lantas mendekap erat-erat tubuhnya yang kuat-liat bagai karang. Lalu peristiwa itu pun jadi perbincangan. Kenangan itu masih menggelayut dalam pikiranku, meski puluhan tahun berlalu. Pada sebuah pagi keseribu sembilan ratus lima puluh satu, pagi pertama usai perkelahian itu, aku masih mengenangnya dan tetap ingin meninjunya tepat mengenai jidatnya dan berluka seperti luka yang kumiliki di jidat. Luka yang telah bersih diseka ibu. Luka yang ia ulangi lagi pada ibu … Di hadapan pusaranya kini, kenangan itu masih purba. Kenangan dan Kesedihan Semestinya kau tak perlu bersedih hati akan hal itu. Kau tahu, bukankah kesedihan senantiasa mengiringi setiap perempuan? Kesedihan adalah ketika kau memandang foto saudara kandungmu tengah terbaring dengan infus dan oksigen membekap mulutnya. Foto yang dikirim temanmu melalui BlackBerry Messenger dan kau tak dapat menjenguknya lantaran ia dirawat di rumah sakit yang jauh dari jangkauanmu, di luar negeri, misalnya. Bukankah Hawa tercipta dari kesedihan Adam lantaran tinggal seorang diri di surga? Aku tentu tahu, bagaimana perasaanmu akan hal itu. Waktu itu memang tiada yang menduga langit akan turun hujan dan kilat saling bersahutan. Segerombolan burung terik yang terbang seolah tahu diri bahwa cuaca sedang tidak berkawan. Segalanya gelap, hitam, begitu pula dengan wajahmu. Di sana, kudapati kemuraman berabad-abad bagaikan tiada lagi cahaya datang menelusup pori-pori wajahmu. Kusangkakan, itulah yang bernama kesedihan. Aku berada di sana waktu itu. Kau memeluk lutut seperti menahan dingin udara yang membelenggu di kala malam. Tiada percakapan. Aku pun tak mau memulainya. Wajahmu tertekuk hingga hampir mencium tanah. Adakah yang mampu memahami kesedihanmu selain dirimu sendiri? Aku masih mengingat, beberapa tahun yang lewat, ketika burung-burung terik sepakat menunaikan ibadahnya di bumi timur, ketika senja masih menguning-langsat sebelum magrib, tatkala waktu belum sepenuhnya punah, kau juga menggigil tinggi sembari memelukku erat menghangatkan tubuhmu yang dingin-beku serupa balok es. Bukan lantaran hujan yang turun tiada henti sedari kemarin. Atau karena kutub utara yang pindah ke rumahmu. Kau takut pada cerita tentang Izah yang memeluk lututnya di haribaan pusara Sunan Ampel. Ia takut pada ibu, mengapa menghilang berbulan-bulan tanpa satu kabar jua? Mengapa pula ia melarikan diri dari studinya yang belum usai? Dan, mengapa ia merahasiakan kandungannya dan merawat bayi yang lahir tanpa ayah itu di makam sang wali? Bukankah kau juga ingin melihat keponakanmu yang mungil itu? Bukankah ia tak bersalah karena mengandung di luar nikah? Apakah Ela juga bersalah lantaran lahir di luar nikah tanpa pernah tahu wajah ayahnya? Kita tak pernah membicarakan dan mengingatnya beberapa tahun belakangan. Kupikir kita terlalu sibuk membicarakan burung terik yang mulai punah dan senja yang kian melegam. Dan memang aku sengaja menyibukkanmu dengan cerita-cerita fiksi karanganku. Dengan begitu, kau tak perlu lagi mengenal kesedihan. Asap Kenangan dan Luka Jika bukan lantaran tawa menyedihkan sepuluh tahun yang lalu, barangkali ia tidak akan kembali ke kampung yang membesarkannya. Juga kepada anaknya. Miftah hanya tahu, bahwa dengan kembali ke rumah, ia dapat menyembuhkan luka-luka yang tersayat di masa lalu. Saat di mana lelaki itu datang mengawininya kemudian meninggalkannya ketika umur kandungannya berumur delapan bulan. Dengan melihat sawah-sawah dipenuhi rumpun jagung yang berjajar rapi dan hijau perdu suket gajah, tentu tawa menyedihkan itu takkan muncul sedemikian rupa bagai penyakit yang muncul tiba-tiba; sehingga napasnya kembali bersih, paru-parunya juga bersih. Sebab belakangan ini ia sering menghabiskan dua bungkus rokok mild per hari. Alasannya, ia ingin kenangan itu terbang jauh ke langit bersama asap yang ia embuskan. Kau tentu hafal akan “Sajak Seonggok Jagung” milik paman Rendra. Sajak yang kau taksir lantaran ia melihat seonggok jagung yang tergeletak di kamar anak lelakinya. Kau lebih tahu isi sajak itu ketimbang Miftah yang hanya khidmat pada tanaman bertangkai tunggal dan berakar serabut itu dan hanya lulusan sekolah dasar. Saban pagi-pagi buta, Miftah berkeliling sawah di jalan setapak-beraspal itu. Di kiri-kanan diselingi pohon-pohon mangga yang buahnya sering dihabiskan codot sebelum tiba masaknya. Kau tahu codot? Makhluk itu serupa kelelawar berukuran lebih kecil dan menyerupai tikus piaraan dan berwarna hitam. Makhluk itu sering menyisakan mangga yang tak habis dimakannya di pekarangan rumah. Maka, itulah ritual yang dilakukan Miftah semenjak sepuluh tahun terakhir sembari tertawa-tawa seorang diri. Arkian, Miftah hanya tahu, bagaimana ibunya bersusah-payah menenangkan dirinya ketika di siang bolong ia bertelanjang bulat tanpa sebab-musabab. Ketika para tetangga tengah beristirahat dan anak-anak kecil bermain pasaran sepulang sekolah, Miftah berteriak-teriak. Kampung gaduh, dan gang di mana rumahnya berada lantas banjir manusia. Para tetangga itu turut menyaksikan dan berupaya menenangkannya, sembari menabahkan hati ibunya yang sedari kecil merawatnya seorang diri. Tanpa sanak keluarga. Dan suami. Siang itu adalah mula tahun-tahun sesudahnya yang penuh keindahan-sunyi dan tawa-menyedihkan tak berkesudahan. Kau di sana waktu itu. Menyaksikan ibumu yang dianggap gila. Kenangan dan Percakapan di Bawah Kemarau Bukanlah suatu kesalahan jika kau mencintai seseorang berdasarkan rupa bentuknya. Tak perlu menyembunyikan hal itu. Aku juga tahu kau mencintainya karena ia cantik atau tampan, karena ia berkulit putih atau langsat, karena ia semampai atau tinggi. Aku pun mengerti. Tak perlulah kita berdebat atau bahkan beradu fisik akan definisi ini. Kau hanya perlu mengerti bahwa kesalahan sebenarnya adalah tatkala kau meninggalkan kekasihmu usai kau mencintainya. Begitulah cerita ini dimulai. Jika bukan lantaran mengingat kau penuh seluruh[1], tentu kau telah lama berlari menggapai bintang di langit lantas menjatuhkannya di atas mataku. Kau tentu ingin aku buta sehingga tak kudapati lagi rona yang terpancar dari wajahmu, bukan? Kau tahu, mencintaimu adalah hal paling menyedihkan yang pernah kuingat. Aku mesti rela hilang bentuk, remuk[2]. Bertahun-tahun memikirkan siasat tak masuk akal supaya kau paham bahwa menggapai cinta tidaklah semudah meneropong bintang lantas memberinya nama belakangmu. Maka, tak usahlah kita mengingat senja yang sendu, langit yang perdu, angin yang merdu itu, bila pertemuan pertama itu hanya jadi kenangan yang membelenggu. Bangku hijau-lumut dan daun-daun sengon itu cukuplah menjadi saksi bisu. Tentu kau berpikiran sama denganku di atas langit masih ada langit, di atas keindahan masih ada keindahan, di atas cinta masih ada cinta. Setidaknya, isyarat itu yang membuat bumi senantiasa berevolusi sebagaimana mestinya dan berotasi sesuai porosnya, sehingga masing-masing menciptakan waktu dan musim, seperti kau dan aku, agar kau memahami bahwa hidup sendiri tak kenal kompromi. Dulu, kita pernah menduga kemarau seperti hujan air langit berguguran lalu menggenang di tanah kering nan lapang. Adakala ia mencium rerumputan, seraya membasuh debu yang menempel di pucuk-pucuknya. Ia lengket. Sembari menunggu wedang jahe yang kau masak, kau membayangkan berguyuran di bawah hujan. “Aku masih bermimpi menumpang pelangi.” Pelangi pun tak selalu hadir bakda hujan. Ia mungkin sekumpulan malaikat, atau bidadari yang hikmat memuji anugerah langit, atau barangkali pula hanya antologi warna yang tujuh. “Kau terlalu banyak berpikir.” Aku pun diam. “Apabila kemarau ini usai, aku ingin menumpang pelangi itu, menuju ke Negeri Senja[3].” Aku masih diam. Sebelumnya, kau selalu bertanya, adakah yang lebih tabah, lebih bijak, lebih arif, dari hujan bulan Juni[4]? Aku hanya bertanya kembali, dalam hati tentu saja, bukankah hujan tak pernah turun di bulan Juni jika kita mengingat pelajaran IPA di sekolah dasar? “Nyatanya, bagaimanapun, tak ada yang lebih bijak, lebih tabah, lebih arif, dari hujan bulan Juni, bukan?” katamu memungkasi. Aku masih tetap diam. Kenangan, Cinta, dan Suami Kita menyukai kesendirian dan kesunyian. Seringkali kita membutuhkan ruang privasi menjauhkan diri dari keramaian dan kepalsuan. Kau tahu, Tuhan menciptakan kita dengan sifat Kesendirian-Nya, dan Ia menyisipi kita dengan sifat Keilahian-Nya. Lantas benarkah kau menunggunya, atau benarkah kau berharap ia seumpama Jibril yang menyampaikan kabar gembira? Kau perlu kesendirian dan kesunyian supaya kau dapat bersemayam dalam cerita-cerita yang kau karang. “Tidak. Menurutku, banyak hal yang mesti dikorbankan demi hal lain yang menurut kita lebih baik.” “Termasuk suamimu?” “Tentu.” “Itu saja?” “Ya. Itu saja. Tidak lebih. Apalagi lebih dari itu.” “Omong kosong.” “Setidaknya kau tak perlu bergurau tentang cinta. Bukankah setiap orang berhak atas cinta? Tiadakah kau rasakan keindahan tentang cinta melebihi segala yang kau punyai? Lantas, adakah yang lebih indah yang pernah diciptakan-Nya selain cinta?” “Ya. Aku mencintaimu sebagaimana suamimu mencintaimu.” Ya. Aku memang terobsesi mencintaimu sebagaimana isi sajak Sapardi yang sering kau gumamkan usai kita bercinta mencintai angin, harus menjadi siut, mencintai air, harus menjadi ricik, mencintai gunung, harus menjadi terjal, mencintai api harus menjadi jilat. mencintai cakrawala harus menebas jarak, mencintai-Mu, harus menjadi aku. Senja telah melegam cukup lama. Beberapa cerita telah khatam kita baca. Burung-burung terik juga telah lama menuju timur, mengkhidmati petang itu. Tiada yang tahu berapa lama lagi kita mesti menyelesaikan percakapan ini. Dalam diam, kita khusuk mendengar azan magrib. Kau tahu, tiada panggilan yang lebih indah selain panggilan-Nya. Kenangan dan Sakit Hanya ada kau dan aku dalam cerita ini. Kunang-kunang berubah ganih dan waktu berhenti pada menit kedua belas. Kata-kata menjadi gelap dan makna pun kekal dalam pekat. Kau tahu, cinta memekarkan rembulan, sedang gemintang berubah menjadi planet baru. Kau tahu, itu adalah amsal tentang riwayatmu dan cerita-certia yang tak kunjung usai kutulis. Mengapakah kau berharap lebih dari itu sementara aku menginginkan tak lebih dari itu, padahal telah kutemukan kembali namamu[5] dalam cerita ini? Tidakkah kau ingat, tatkala kau sakit, kau akan ingat ketika sehat. Langit-langit kamarmu laksana hamparan penyesalan dan tubuhmu bak terperangkap dalam jaring laba-laba raksasa[6]. Pada senja yang menyengat, kau hanya bisa roboh di atas dipan. Kau tak dapat menyaksikan gemerlap jingga-keemasannya lantas menumpanginya ke Negeri Senja[7]. Dan, pada sepertiga malam terakhir, kau hanya bisa terjaga seraya mendapati diri seorang diri. Kau tak dapat menyampaikan doamu padahal pada waktu istimewa itu Tuhan turun ke bumi dan mengabulkan segala doamu. Lantas, adakah perilaku-perilaku sebelumnya yang membuat tubuhmu harus terpapar di antara sakratul-maut, atau, adakah mimpi-visimu yang belum terwujud manakala kau berada dalam situasi seperti itu? Kau menggeleng. Takut aku berdusta. “Sakit adalah saat di mana dosa-dosa dikelupas-Nya dengan sederhana[8].” Kau mencoba menebak arah pikiranku lantaran tiada bersepakat dengan perkataanku. “Sakit adalah istirah agar kau mengingat-Nya lebih dari sekadar kau mengingat dirimu.” “Adakah yang lebih purba dari kenangan?” katamu. “Ada,” kataku. “Sakit tersembunyi lebih purba dari kenangan.” “Benarkah?” “Kau sakit. Baiknya kau undur diri.” [*] [1] Kutipan sajak “Doa” karya Chairil Anwar. [3] Tentang Negeri Senja dapat dibaca pada cerpen “Tujuan Negeri Senja” karya Seno Gumira Ajidarma, Kompas, Minggu, 8 November 1988 dan “Senja dan Cinta yang Berdarah” Penerbit Buku Kompas, 2014 622-629. [4] Berdasarkan sajak “Hujan Bulan Juni” 1989; Editum, 2012 89 karya Sapardi Djoko Damono, yang penulis rangkum dan ambil dari masing-masing larik pertamanya. Selengkapnya tak ada yang lebih tabah / dari hujan bulan juni / dirahasiakannya rintik rindunya / kepada pohon berbunga itu // tak ada yang lebih bijak / dari hujan bulan juni / dihapusnya jejak-jejak kakinya / yang ragu-ragu di jalan itu // tak ada yang lebih arif / dari hujan bulan juni / dibiarkannya yang tak terucapkan / diserap akar pohon bunga itu //. [5] Kutipan sajak “Dalam Lipatan Kain” karya Esha Tegar Putra Motion Publishing, 2015 93 [6] Kalimat ini terisnpirasi dari cerpen “Sarelgaz’” karya Sungging Raga Indie Book Corner, 2014 71-76. [8] Sajak “Aku Ingin” 1989; Editum, 2012 90 karya Sapardi Djoko Damono, yang dimulai dengan larik Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. M Firdaus Rahmatullah, lahir di Jombang. Menggemari sastra dan kopi. Menulis cerpen dan puisi dan tersebar di beberapa media massa. Alumni PP Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang dan PBSI STKIP PGRI Jombang. Kini, berkhidmat di SMAN 1 Panarukan, Situbondo. Bisa ditemui di twitter mufirra_ dan facebook mfirdausrahmatullah *Sumber gambar
Cerpen Karangan Fanny Amelia AnandaKategori Cerpen Anak, Cerpen Perpisahan, Cerpen Persahabatan Lolos moderasi pada 16 August 2014 Hari-hari ku begitu bermakna saat aku melewatinya bersama sahabat-sahabat yang ku sayangi. setiap hari aku selalu menghabiskan waktu bersama mereka. Besok adalah hari pertama liburan semester, kira-kira liburan ini aku mau kemana ya bersama teman-teman ku? mungkin kita kumpul-kumpul bareng dan bersenang-senang bareng deh. Keesokan harinya aku dan sahabat ku yang bernama zahra bercerita di tempat kami biasa berkumpul bersama. di sana ia bercerita kalau seminggu lagi ia bakalan pindah ke manado. “fann kayaknya minggu-minggu ini aku mau pindah deh” “kemana?” tanyaku penasaran “ke manado” “ngapain? kok cepet banget sih” “gak tau” Aku terdiam dan tiba-tiba dan memikirkan sesuatu. “kenapa kamu pindah secepat ini zar? aku baru ngerasain sahabatan sama kamu cuma sebentar, walau ada sahabat ku yang lain tapi yang bisa memahami aku cuma kamu.” Tiba-tiba zahra mengagetkan ku “hayo… kamu lagi ngelamunin apa?” “apaan sih zar” “oh iya dari kemarin aku mau bilang sama kamu besok aku mau pulang kampung” “ngapain?” “gak tau deh orangtua aku yang tau” “sampe kapan?” “kira-kira 5 hari, setelah pulang besoknya aku siap-siap berangkat ke manado. trus besoknya lagi langsung berangkat” Aku hanya bisa sedih saja. rasanya aku gak rela buat melepas kepergiannya. rasanya air mata ini ingin menetes begitu saja. tapi aku tahan karena aku gak mau bersedih di depan sahabat ku. “aku di sana cuma 5 tahun. abis itu aku ke sini lagi” katanya “janji ya?” “iya. tar kalo aku udah kesini orang yang pengen pertama aku temuin yaitu kamu” “awas ajah kalo kami ingkarin janji ke aku” “gak bakal” Tiba esok hari sahabat ku pun pergi ke kampung halamannya, hari-hariku terasa begitu sepi tanpa dia. Hari terus berganti sepi pun terus membayangi ku. 5 hari ku tanpa kehadiran sahabat Tiba saatnya ia kembali dari kampung halamanya. rasa senang menyelimuti hati ku, akhirnya sahabat ku balik lagi ke sini. tapi hari ini adalah hari terakhir bersamanya. Hari ini aku ingin menghabiskan waktu terakhir bersamanya. hari ini aku jalan-jalan bersama zahra dan yang lainnya. di sana aku bercanda-canda bersama mereka, hari ini begitu sepesial untuku. Seketika sedang bersenang-senang zahra pun ditelepon dan disuruh untuk pulang untuk membeli barang-barang utuk besok pergi. “fann maaf aku disuruh pulang sama orangtua ku untuk membeli keperluan untuk besok” “iya zar gak papa” padahal hati aku kecewa banget tapi tak apa lah Zahra pun pulang aku pun juga begitu Hari ini adalah hari dimana sahabatku benar-benar pergi meninggalkan aku dalam waktu yang cukup lama. Hari ini aku tidak libur karena ada pelajaran tambahan dari siang sampai sore. oleh karena itu aku kecewa karena gak bisa lihat kepergian zahra. aku terus memikirkan itu hingga akhirnya aku gak konsen sama sekali. Akhirnya aku pulang dari sekolah dan langsung ke rumah zahra, ternyata ia udah berangkat dari 1 jam yang lalu. tiba-tiba salah satu teman ku menghampiri ku dan memberikan sebuah surat. “fann, ini surat buat kamu dari zahra” “oh makasih ya” “iya sama-sama” Aku membuka secara perlahan dan membacanya “fan, maaf aku gak bisa di samping kamu kaya dulu lagi. maaf karena aku gak bisa lindingi kamu lagi. Aku harap kamu jadi anak yang baik ya buat orangtua kamu. jangan lupain aku ya. Walau jauh kita kan masih bisa komunikasi lewat hp kalo gak jejaring sosial. aku masih ada kok di hati kamu. jaga persahabatan kita ya. i love my best friend” Gak tau kenapa rasanya dada ini begitu sesak tak terasa pipi ini sudah basah dengan air mata ku. aku menuju rumah dan langsung meluapkan kesedihan ku. “zar walau aku sama kamu jauh kamu akan tetep jadi sahabat aku kok. makasih ya karena kamu udah ngasih yang terbaik buat aku. aku bakal kuat ngelewatin hari-hari tanpa mu” kataku dalam hati Aku tetap menjalani semuanya seperti janji aku kepada zahra. i miss you ~ SELESAI ~ Cerpen Karangan Fanny Amelia Ananda Facebook Fanny Amelia Ananda Cerpen Kenangan Terindah Bersama Mu merupakan cerita pendek karangan Fanny Amelia Ananda, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " My Childhood Friend Is A Mermaid Oleh Rabiatul Adawiah Pagi itu.. Aku duduk di kamarku yang sangat sunyi, yang ada hanya aku dan cahaya mentari yang indah. Aku menatap jendela kamarku, seraya mengingat kenangan singkat masa kecilku yang Pergi ke Tanah Suci Oleh Adelia Shiffa Fajariani Halo perkenalkan namaku Rachel. Aku bercita-cita ingin membawa kedua orangtuaku ke Mekkah, Arab Saudi. Tapi rasanya itu mustahil. Butuh berpuluh-puluh tahun untuk menabung uang. Orangtuaku bekerja sebagai penjual nasi Mantan Bertahan Dengan Rasa Sakit Oleh Ditha Nurmala Gue punya pacar bernama rian saputra, Mulanya kita sebatas teman kerja… Berawal dari kebencian gue sama dia, yg padahal gue sendiri ga tau kenapa gue sangat membenci dia. Saat Embunku di Atas Karya Tuhan Oleh Fadli Anas Sudut ini membuatku sempit untuk melakukan gerakan-gerakan indahku, “arrrgh, kenapa, hanya aku Tuhan…! Hanya aku yang berbeda dengan mereka, lincah, tanpa sadar mereka sekarang berbicara seenaknya di depanku, aku Perjuangan yang Terbuang Sia Sia Oleh Salsa Nurul Aisyah Aku, Adinda, dan Laura adalah 3 sekawan yang sangat akur, kalaupun berantem palingan juga sehari gak lebih. Karena kami telah bersahabat sejak lama kami merasa bosen kenapa persahabatan kita “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
cerpen kenangan terindah bersama mantan